Pertama-tama maafkan penyair ini karena menggunakan saya dan aku, dan tidak konsisten memilih salah satunya dalam mendaraskan puisi-puisinya. Pembaca bisa berpikir itu sebuah kekeliruan, tetapi penyair kalian ini masih belum mahir membikin puisi. Ia bukan Chairil, bukan Sapardi, bukan Jokpin, bukan Aan, bukan siapa-siapa. Puisi-puisinya sepotong-sepotong bahkan bisa dikatakan belum selesai dengan dirinya sendiri. Bisa jadi, ini cerminan dari kesukaan manusia menggeser story WA sesama dan menjadi patah sesering mungkin. Pergulatan aku dan saya adalah permainan identitas, permainan yang kerap bernada serius, tetapi lebih sering bermain-main—dengan pengalaman, kenangan, kerinduan, dan hal-hal yang suka absen dari perhatian manusia—sebab puisi adalah sahabat yang suka bercanda dan menyukai diskusi tentang kesepian dan kesendirian yang mahasunyi. Selamat menikmati!
saya memikirkanmu ketika berdoa
bahkan setelah tanda salib.
Kau di dahi
Kau di dada
Kau di bahu kiri
Kau di bahu kanan
amin
kujaga kepalaku
agar tetap bisa
mengingatmu
kunci yang paling minor ialah cinta
sementara jari-jarimu api
lihai membakar
dirinya sendiri
kau buka halaman pertama
dan kepalamu menjadi kota
yang penuh kemacetan
kau buka halaman terakhir
dan kau menjadi manusia
yang paling terluka
sebaiknya kau tak membuka apapun
ketika bermimpi, ada hal-hal yang kaubayangkan
sebagai kehilangan
kau menjadi tidur yang paling bahaya
rasa cemburu bagi langit yang siap
kehilangan dirimu
dan semua kenangan
yang tahu memakamkan
dirinya sendiri
kau setuju menganggap hidupmu hujan
dan kening kekasih adalah kota
yang kebanjiran
saya adalah kupang yang pura-pura
kupang adalah saya yang pura-pura
kupang dan saya
pura-pura
ialah kata kerja
bagi kesepianmu
teman
adalah pacar yang setia
kau adalah pendahuluan dari masalah yang sulit kurumuskan
bagaimana hubungan antara kesepian dan mencintai?
sementara kenangan ialah daftar pustaka
bagi kehilangan-kehilanganmu
Note : Dunstan Obe berdomisili di Kupang. Doakan dia supaya cepat wisuda.
