Suhu Rendah

kau yang kutemui saat gelap hutan sedang damai dengan kesejukannya, menjadikanmu sebagai desis ketenangan dalam setiap dimensi ruang yang kau temui
entah keraguan apa yang kulakukan pada diriku, membuatmu sekedar hadir tanpa ku berniat menggenggammu
kau yang seharusnya menari denganku di danau bersama pantulan wajah langit, ku biarkan pergi hanyut bersama bulir air dedaunan
aku mencarimu, di malam gemuruh guntur itu
mengejarmu di antara tingginya rerumputan dan semak basah
jejakmu yang ku yakin tersapu aliran limpasan di tepi lembah
jejakmu yang ku yakin tersapu aliran limpasan di tepi lembah
membuatmu lenyap begitu saja bagai sapuan gerimis layaknya mengundang hujan
angin yang mendukung cuaca saat itu membuatku semakin kehilanganmu
kucoba telusuri setiap genangan air, barangkali di sana kutemukan petunjukmu
dimanakah lagi langkahmu?
dimanakah lagi langkahmu?
kau satu satunya yang ku punya, kau yang melihatku lebih dari setiap kurangnya diriku
tatapanmu ku suka, karena selalu diselingi raut ceria bibirmu
kaulah suhu rendahku, dengan kadar oksigen lebih banyak dari biasanya
kini kau pergi mengalir begitu saja, hanyut di dataran rendah sungai bagian selatan itu
tak sempat ku menemukanmu, kau sudah menyatu dengan dinginnya dasar perairan malam itu
teruntuk siapapun yang kau jumpai di samudera bebas sana, dia beruntung telah mendapatkanmu
karena padamu kecantikan malam disadari, karena padamu sejuknya menanti pagi didapat, dan karena padamu dua gugus galaksi bertambah pada setiap tatap teduh matamu
(Stevano Oswyth, 2020)
Note :
Didedikasikan untuk seorang gadis
Jenis Puisi :
Abstrak romansa